Sinopsis Lengkap Arthdal Chronicles Episode 1

Diposting pada

Dimulai dengan Asa Hon
yang tertidur bersama dengan bayinya dengan ular yang mengancam. Jauh sebelum
itu Pasukan Saram yang dipimpin Moo-Gwang
(Hwang Hee)
diserang seorang Suku NWEANTAL
yang memiliki mata biru dan cakar mematikan membunuh pasukan Saram. Ketika
Moo-gwang terpojok, pasukan pemanah menembakkan jutaan panah yang membuatnya
kabur namun salah satu panah mengenai Moo-gwang.


Moo-baek (Park
Hae-joon)
membawa
pasukannya menemui Moo-gwang setelah itu mereka berusaha mengejar seorang
Nweantal. Di Puncak Gunung Putih,  Negeri
Saram yang dipimpin dari klan Hae, Hae
Mi-hol (Cho Seong-ha)
bersama pasukannya bertemu dengan Nweantal yang di
pimpin Rankruv. Dimana Mi-hol meminta
untuk bersatu membangun negeri Arthdal tetapi Rankruv menolak.

Neanthal akan merayakan bulan sabit selama 7 hari, pasukan
Saram mengirim kain yang telah dilumuri penyakit dari hewan dengan memanfaatkan
Asa Hon (Choo Ja-hyun) bersama pasukannya
untuk diberikan kepada Neanthal. Para Neanthal terkapar dan dihujani panah api
oleh pasukan yang dipimpin Ta-gon
muda membakar daerah Atturad.


Asa Hon terkejut saat mengetahui bahan yang dibawanya menjadi
penyebabnya dan merasa telah dikhianati mengambil seorang anak Nweantal yang
masih hidup dan bertemu dengan Nweantal
Ragaz (Yoo Teo)
yang menggendong anak. Dia marah terhadap Asa Hon dan Asa
Hon meminta maaf namun dia terkejut melihat Asa Hon menggendong seorang anak
dan Asa Hon mengatakan kepada Ragaz untuk bersama-sama membesarkan mereka.

Moo-baek bersama pasukannya mencari Nweantal yang masih
bertahan hidup. Ragaz bertarung menghadapi mereka sementara Asa Hon terbangun
dari mimpi buruknya. Saat dia terbangun dan terkejut dia bisa bermimpi. Asa Hon
kehilangan bayi bernama Eun-sum di sampingnya dan saat keluar dia melihat
Eun-sum digendung anak yang lain.


Anak lainnya yang merupakan seorang IGUTU (campuran Neanthal dan Saram) memberi tahu bahwa Ragaz
melawan pasukan Saram membawa anak sulungnya. Asa Hon ingin pergi ke sana
membawa Eun-sum. Namun berusaha dihentikan anak tersebut. Sebab Asa Hon adalah
Saram dan berasal dari klan Hwinsan dimana klan mereka tidak boleh mencelakai
orang dari klan mereka sendiri. Asa Hon tetap pada pendiriannya membawa Eun-sum
pergi.

Sementara Ragaz hampir membunuh Moo-baek sebelum dibunuh oleh
Tagon. Di saat terakhir kematiannya Ragaz mengatakan kepada Moo-baek bahwa dia
bermimpi pasukan Saram akan saling membunuh. Prajurit diambang kematian
menyebutkan pemuja dewa ARAMEUN HAESULLA pendiri Arthdal yang merupakan dewa Kerukunan
dan Persatuan Arthdal.


Tagon memimpin ritual kematiannya menyebutkan bunga
Kamperfuli, Palu Angin dan Kanmoreu. Setelah itu Tagon menemukan bayi berdarah IGUTU
yang membuat prajurit lain terkejut sebab dia menganggap akan membawa
malapetaka tetapi Tagon membunuh prajurit tersebut yang hendak pergi. Di saat
itu Asa Hon memperhatikan Tagon membunuhnya membawa anak tersebut.

Ragaz digantung di atas pohon, lalu seorang anak Igutu,
Rottip mengatakan Ragaz tidak akan sampai ke bulan. Asa Hon mengatakan Arameun
Haesulla yang membawa Ragaz. Asa Hon menjelaskan bahwa dia bermimpi palu angin dan
bunga kamperfuli dimana Aramun mengancam mengambil Ragaz apabila tidak
menyerahkan anak-anaknya. Asa Hon tidak ingin menyerahkannya.


Di saat Anak Asa Hon lahir, Komet biru muncul di Arthdal,
diyakini pembawa bencana dilahirkan di hari tersebut. Asa Hon menambahkan bahwa
dirinya dikutuk dewa Arth. Sebab dia seorang Saram telah mengkhianati klannya,
jatuh cinta dan juga melahirkan bayi Igutu.

Asa Hon mengatakan akan menuju Iark dimana di tempat tersebut
dewa Arth tidak mampu menerapkan otoritasnya di tempat tersebut dan kutukan
Aramun tidak akan mencapai tempat itu juga. Dalam perjalanannya Asa Hon
mengatakan dirinya akan tetap merawat anaknya meskipun membawa bencana ataupun
memusnahkan dunia. Asa Hon kini tiba tebing tinggi dan tinggal di dalam goa.


10 tahun kemudian Tagon
(Jang Dong-gun)
pemimpin yang ditakuti merayakan dengan prajuritnya atas
perburuan mereka selama satu dekade. Taealha
(Kim Ok-vin)
menghampiri Tagon mengatakan bahwa dia telah membesarkan anak
Igutu tersebut meskipun mereka belum menikah. 
Taealha memberikan GEULBAL/surat anak tersebut kepada Tagon.

Pemimpin klan Saenyeok Kim
Eui-sung (San-woong),
pemimpin Hae, Cho
Seong-ha
dan kepala pendeta Asa Ron
dari klan Hae melakukan pertemuan membahas untuk bertani di Dataran Bulan
dimana mereka akan membuka lahan tersebut. Sementara itu Eun-sum telah berusia
10 tahun berhasil mendapati jalan menuruni bukit tebing besar yang membuka
jalan menuju Iark.


Dia bersama Ibunya menuju ke Iark namun dalam perjalanan
mereka, Asa Ron pingsan dan Eun-sum mula didekati oleh para serigala. Naluri
Eun-sum mulai keluar dan seketika segerembolan serigala pergi setelah
kedatangan Klan WAHAN yang menolong mereka. Di tempat Wahan, Eun-sum telah
dewasa (Song Joong-ki) terbangun dari tidurnya dan dikerumuni orang-orang Wahan
yang mengatakan kepada Eun-sum apakah Eun-sum bermimpi?.

Tinggalkan Balasan