Minggu, 02 Juni 2019

Sinopsis Lengkap Arthdal Chronicles Episode 1


Dimulai dengan Asa Hon yang tertidur bersama dengan bayinya dengan ular yang mengancam. Jauh sebelum itu Pasukan Saram yang dipimpin Moo-Gwang (Hwang Hee) diserang seorang Suku NWEANTAL yang memiliki mata biru dan cakar mematikan membunuh pasukan Saram. Ketika Moo-gwang terpojok, pasukan pemanah menembakkan jutaan panah yang membuatnya kabur namun salah satu panah mengenai Moo-gwang.


Moo-baek (Park Hae-joon) membawa pasukannya menemui Moo-gwang setelah itu mereka berusaha mengejar seorang Nweantal. Di Puncak Gunung Putih,  Negeri Saram yang dipimpin dari klan Hae, Hae Mi-hol (Cho Seong-ha) bersama pasukannya bertemu dengan Nweantal yang di pimpin Rankruv. Dimana Mi-hol meminta untuk bersatu membangun negeri Arthdal tetapi Rankruv menolak.

Neanthal akan merayakan bulan sabit selama 7 hari, pasukan Saram mengirim kain yang telah dilumuri penyakit dari hewan dengan memanfaatkan Asa Hon (Choo Ja-hyun) bersama pasukannya untuk diberikan kepada Neanthal. Para Neanthal terkapar dan dihujani panah api oleh pasukan yang dipimpin Ta-gon muda membakar daerah Atturad.


Asa Hon terkejut saat mengetahui bahan yang dibawanya menjadi penyebabnya dan merasa telah dikhianati mengambil seorang anak Nweantal yang masih hidup dan bertemu dengan Nweantal Ragaz (Yoo Teo) yang menggendong anak. Dia marah terhadap Asa Hon dan Asa Hon meminta maaf namun dia terkejut melihat Asa Hon menggendong seorang anak dan Asa Hon mengatakan kepada Ragaz untuk bersama-sama membesarkan mereka.

Moo-baek bersama pasukannya mencari Nweantal yang masih bertahan hidup. Ragaz bertarung menghadapi mereka sementara Asa Hon terbangun dari mimpi buruknya. Saat dia terbangun dan terkejut dia bisa bermimpi. Asa Hon kehilangan bayi bernama Eun-sum di sampingnya dan saat keluar dia melihat Eun-sum digendung anak yang lain.


Anak lainnya yang merupakan seorang IGUTU (campuran Neanthal dan Saram) memberi tahu bahwa Ragaz melawan pasukan Saram membawa anak sulungnya. Asa Hon ingin pergi ke sana membawa Eun-sum. Namun berusaha dihentikan anak tersebut. Sebab Asa Hon adalah Saram dan berasal dari klan Hwinsan dimana klan mereka tidak boleh mencelakai orang dari klan mereka sendiri. Asa Hon tetap pada pendiriannya membawa Eun-sum pergi.

Sementara Ragaz hampir membunuh Moo-baek sebelum dibunuh oleh Tagon. Di saat terakhir kematiannya Ragaz mengatakan kepada Moo-baek bahwa dia bermimpi pasukan Saram akan saling membunuh. Prajurit diambang kematian menyebutkan pemuja dewa ARAMEUN HAESULLA pendiri Arthdal yang merupakan dewa Kerukunan dan Persatuan Arthdal.


Tagon memimpin ritual kematiannya menyebutkan bunga Kamperfuli, Palu Angin dan Kanmoreu. Setelah itu Tagon menemukan bayi berdarah IGUTU yang membuat prajurit lain terkejut sebab dia menganggap akan membawa malapetaka tetapi Tagon membunuh prajurit tersebut yang hendak pergi. Di saat itu Asa Hon memperhatikan Tagon membunuhnya membawa anak tersebut.

Ragaz digantung di atas pohon, lalu seorang anak Igutu, Rottip mengatakan Ragaz tidak akan sampai ke bulan. Asa Hon mengatakan Arameun Haesulla yang membawa Ragaz. Asa Hon menjelaskan bahwa dia bermimpi palu angin dan bunga kamperfuli dimana Aramun mengancam mengambil Ragaz apabila tidak menyerahkan anak-anaknya. Asa Hon tidak ingin menyerahkannya.


Di saat Anak Asa Hon lahir, Komet biru muncul di Arthdal, diyakini pembawa bencana dilahirkan di hari tersebut. Asa Hon menambahkan bahwa dirinya dikutuk dewa Arth. Sebab dia seorang Saram telah mengkhianati klannya, jatuh cinta dan juga melahirkan bayi Igutu.

Asa Hon mengatakan akan menuju Iark dimana di tempat tersebut dewa Arth tidak mampu menerapkan otoritasnya di tempat tersebut dan kutukan Aramun tidak akan mencapai tempat itu juga. Dalam perjalanannya Asa Hon mengatakan dirinya akan tetap merawat anaknya meskipun membawa bencana ataupun memusnahkan dunia. Asa Hon kini tiba tebing tinggi dan tinggal di dalam goa.


10 tahun kemudian Tagon (Jang Dong-gun) pemimpin yang ditakuti merayakan dengan prajuritnya atas perburuan mereka selama satu dekade. Taealha (Kim Ok-vin) menghampiri Tagon mengatakan bahwa dia telah membesarkan anak Igutu tersebut meskipun mereka belum menikah.  Taealha memberikan GEULBAL/surat anak tersebut kepada Tagon.

Pemimpin klan Saenyeok Kim Eui-sung (San-woong), pemimpin Hae, Cho Seong-ha dan kepala pendeta Asa Ron dari klan Hae melakukan pertemuan membahas untuk bertani di Dataran Bulan dimana mereka akan membuka lahan tersebut. Sementara itu Eun-sum telah berusia 10 tahun berhasil mendapati jalan menuruni bukit tebing besar yang membuka jalan menuju Iark.


Dia bersama Ibunya menuju ke Iark namun dalam perjalanan mereka, Asa Ron pingsan dan Eun-sum mula didekati oleh para serigala. Naluri Eun-sum mulai keluar dan seketika segerembolan serigala pergi setelah kedatangan Klan WAHAN yang menolong mereka. Di tempat Wahan, Eun-sum telah dewasa (Song Joong-ki) terbangun dari tidurnya dan dikerumuni orang-orang Wahan yang mengatakan kepada Eun-sum apakah Eun-sum bermimpi?.

Loading...